Minggu, 24 Februari 2019

Revolusi Industri 4.0 dan Kesejahteraan Guru

weekend yang lalu saya melihat bertebaran postingan teman-teman tentang kegiatan peningkatan mutu berupa seminar, ada juga bimtek. menarik animo pesertanya tinggi. biasanya memang begitu apalagi ada jumlah jam. biasalah memang untuk pns sebagai bahan kenaikan pangkat butuh hal demikian. 
temanya keren, bahkan sangat up to date. revolusi 4.0. beranda Fb saya malah didominasi kata-kata itu. bahkan sudah ada juga revolusi sosial 5.0. itu bukan lanjutan. tapi sebuah model tingkah laku serta keadaan manusia dalam berinteraksi juga dalam memanfaatkan segala macam teknologi untuk kemudahan kehidupan manusia. 

ketika melihat animo teman-teman guru dalam belajar yang tinggi ada optimisme bahwa kedepan pendidikan akan semakin maju. persoalannya pendidikan bukan hanya urusan sekolah tapi ada keterlibatan masyarakat dan orang tua. lebih luas lagi keterlibatan dunia usaha dan dunia industri dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan haruslah kuat. 

semua komponen itu mesti saling bekerja sama dalam hal membangun pendidikan yang lebih baik. peran pemerintah dalam membuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi sekolah juga perlu dilaksanakan. jangn cuma membuat kebijakan tapi tidak tau persis bagaimana kondisi real dilapangan. kesejahtraan guru juga penting untuk diperhatikan. walaupun setiap pekerjaan itu pilihan tapi saya kira menjadi kewajiban pemerintah juga untuk melihat itu. apalagi bahwa pendidikan adalah salah satu tolak ukur keberhasilan suatu negara. dan didalamnya ada peran guru yang sangat besar. guru merupakan ujung tombak yang langsung dilapangan. dan peran itu tidak bisa dianggap remeh. guru berkualitas dan totalitasnya sangat berpengaruh. tapi jika pemikiran mereka harus terbagi untuk memenuhi kebutuhan hidup juga tidak bisa disalahkan. 

guru juga punya keluarga yang harus dihidupi. keluarga yang harus di urus dipenuhi kebutuhannya. di era ini di abad 21 semestinya pemerintah memikirkan hal itu. mengedepankan bagaimana tersedianya guru yang berkualitas dan dapat hidup layak. 

Petoosang, 25 Februari 2019

Abdul Mujid



Selasa, 05 Februari 2019

MENGAPA SAYA MEMILIH IGI?



Dalam sebuah diskusi seorang dosen senior dengan sedih mengatakan bahwa saat ini para guru telah kehilangan idealismenya. Para guru telah terjebak pada pragmatisme dan tidak lagi memiliki spirit perjuangan sebagaimana para guru di zaman lampau.
“Oh, tidak. Itu karena Anda belum bertemu dengan para guru IGI.” Kata saya.
“Guru IGI…?! Apa itu IGI…?!” tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Kemarin saya mengikuti acara pertemuan para pengurus IGI Jawa Timur di Srambang Park Ngawi yang sedang meluncurkan buku “Mengapa Saya Memilih IGI” dan Jurnal “Qualita”. Begitu bertemu dengan mereka suasana yang akrab, hangat, dan penuh semangat perjuangan dan idealisme langsung terasa. Orang-orang ini memang para guru luar biasa. Penampilan mereka tetap bersahaja sebagaimana penampilan para guru umumnya tapi begitu mereka berbicara maka Anda akan sadar bahwa Anda berhadapan dengan para guru yang benar-benar memiliki semangat juang dan idealism yang menyala-nyala. Mereka datang dari berbagai kota di Jawa Timur dengan tekad untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia, khususnya di Jawa Timur, tanpa instruksi dari mana pun, apalagi biaya. Mereka datang dengan biaya sendiri dengan tujuan menimba ilmu dan berkoordinasi untuk menggerakkan para guru di lingkungan masing-masing.

Ketika saya dulu menolak menjadi anggota Golkar saya diskors selama bertahun-tahun. Tapi saya bertahan demi sebuah idealisme. Saya hendak katakan pada dunia pendidikan Indonesia saat itu bahwa guru adalah sosok pinandito sehingga ia haruslah independen, tidak berpolitik praktis, dan tidak partisan. Guru itu tiang paling utama dari bangsa dan negara sehingga harus tegak dan tidak condong. Tapi saya diskors karena sikap itu.
Tapi Indonesia sudah berubah dan kini sebaliknya apa yang menjadi sikap saya tersebut menjadi sikap dan keputusan negara. Guru sebagai PNS atau ASN tidak boleh berpolitik dan harus netral.
Tapi saat ini memilih IGI bagi sebagian guru masih merupakan sebuah perjuangan. Di banyak daerah IGI masih dimusuhi, digencet, ditolak, diancam, diintimidasi, dan bahkan dimutasi. Bayangkan…! Di zaman Pendidikan 4.0 masih terjadi penindasan pada guru hanya karena mereka ingin masuk IGI, sebuah organisasi resmi yang diakui oleh pemerintah. Mereka diancam dan diintimidasi oleh para pejabat pendidikan yang berkolusi dengan organisasi guru lainnya yang takut tersaingi oleh IGI. Sungguh tidak masuk akal bahwa ada organisasi profesi guru yang bersikap seperti zaman Orde Baru yang menggunakan kekuasaan untuk menggencet guru-guru yang tidak ingin masuk ke organisasinya. Ini aneh tapi nyata…

Mengapa para guru ingin masuk IGI…?!

“Saya ingin menjadi bagian dari sejarah kemajuan peradaban, bukan untuk ikut arus sejarah.” Demikian kata Sudarman almarhum, mantan Kasek SMKN 1 Geger Madiun. “Ketika bersama KGI (nama IGI dulu) saya berhasil menjalin kerjasama pengembangan  bisnis oli di SMKN 1 Geger Madiun dengan Pertamina. Ini berlanjut dengan kerjasama lain sehingga sekolah saya disebut “SMK Pertamina” dan jumlah siswa kami meledak menjadi dua kali lipat. Ini sebuah sejarah yang tidak pernah dilakukan oleh sekolah mana pun saat itu. Dan itu semua saya peroleh sejak bergabung dengan KGI.”

“Di IGI semua yang berkiprah di dalamnya, saya temukan, adalah manusia-manusia yang terpilih hati nuraninya tanpa pamrih apa pun, apalagi mengharap imbalan uang, untuk saling berbagi dan mengembangkan profesionalismenya,” kata Dra. Riantasih Indriadni, M..Pd, Guru SMKN 1 Surabaya.

“Bergabung dengan IGI ibarat menemukan oase di padang pasir. “ kata Prawoto, guru di SMAN 2 Bojonegoro. “Ada semangat literasi yang selalu dinyalakan dalam tubuh IGI dan itu yang saya sukai.”

“Mengapa saya suka bergabung dengan IGI? Karena gagasan-gagasan yang diwujudkannya begitu riil dan mudah diterima. Teladan-teladan pribadi yang ada di lingkarannya sangat mengagumkan. IGI adalah komunitas guru belajar tanpa henti. IGI itu gudangnya para guru berprestasi. ” kata Nurwahyudi, guru SMPN 2 Jogorogo, Ngawi. “Saya juga semakin sejahtera sejak bergabung dengan IGI. IGI itu menyejahterakan anggotanya. Sejak bergabung dengan IGI saya bertambah ilmu, bertambah teman, bertambah kreatifitas, saya semakin sejahtera.”

“IGI memang keren. Melalui organisasi profesi ini guru benar-benar dapat mengubah dirinya sendiri menjadi lebih professional tanpa harus bergantung pada pihak lain mana pun. Para anggota IGI juga menjadi lokomotif penggerak perubahan bagi bangsa.” Siti Nur Hasanah, guru SMPN 5 Surabaya.

“Menjadi anggota IGI adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi guru seperti saya karena kita benar-benar didorong dan dipacu untuk menjadi guru yang sebenarnya guru. Benar sekali ungkapan bahwa ”Who dares to teach must never cease to learn” Berani jadi guru ya tidak boleh berhenti belajar. “ kata Sudarwati.

“Saya jatuh hati pada IGI.” kata Wanda Sulaksono, guru SDN KolursariI, Bangil.”Bagaimana tidak? Lha wong sejak bergabung dengan IGI walau saya masih sukwan waktu itu tapi saya bisa diberangkatkan ke Pusat Pembelajaran Matematika se Indonesia di P4TK Matematika Jogyakarta. Semua orang di kecamatan saya sampai terkejut, kaget, bahkan ada yang marah. “Kok bisa seorang sukwan justru terpilih?” Saya jawab dengan tegas, “Alhamdulillah saya ikut berkat informasi dari IGI, dari sang pelopor kegiatan “Sharing and Growing Together”. Sekarang ini setiap tahun saya langganan berangkat ke P4TK Matematika Jogyakarta dan SD saya berhasil menjadi mitra dalam penyelenggaraan seminar pendidikan matematika yang diikuti secara live streaming di seluruh wilayah Indonesia.”

“IGI itu pilihan tepat bagi guru yang ingin menjadi Guru VIP. Apa itu guru VIP…?! Guru yang Visioner, Inspiratif, dan Progresif.” Lilik Masruhah, SMPN 2 Wonoayu, Sidoarjo. “IGI itu lahir untuk bersinergi dengan siapa saja dan bukan sebagai organisasi tandingan. IGI itu fokus pada upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru.. IGI hadir untuk melengkapi, bukan bersaing. IGI adalah cahaya baru yang menerangi perjalanan guru dalam mengantarkan anak didik menuju cita-cita mulia demi bangsa dan negara ini.”

“Di IGI saya panen banyak ilmu. Banyak pakar yang bergabung di IGI. Segala isu baru dan perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia selalu dibahas dan didiskusikan dengan seru di IGI. Hal ini kemudian saya sebarkan pada teman-teman sehingga saya menjadi ‘papan pitakonan’ alias tempat bertanya teman-teman. Bukan hanya teman-teman satu sekolah dan MGMP tapi juga teman-teman lain yang tidak semapel. Karena bergabung dengan IGI maka saya bisa menjadi narsum K 13 di MGMP. “ Rohani Cahya, SMAN 1 Balen. “Semua teman di IGI itu seperti keluarga yang bikin betah. Bergabung dengan IGI serasa mendapatkan paket komplit yang patut disyukuri.”

Ada 40 lebih guru IGI Jatim yang menuliskan alasannya mengapa mereka memilih IGI dalam buku ini. Saya hanya mengutip beberapa di antaranya. Dan itu semuanya membuat saya benar-benar dilanda oleh rasa haru dan syukur yang tidak terhingga. Mata saya benar-benar basah membaca buku ini. Buku yang benar-benar ditulis dari hati para guru yang merasakan nikmatnya menjadi bagian dari organisasi profesi guru yang bernama IGI. IGI yang dulunya bernama Klub Guru Indonesia ini ternyata sekarang benar-benar menjadi sumber inspirasi untuk menghidupkan semangat dan nyala api idealisme para guru se Indonesia.

Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, demikian kata almarhum Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan. IGI adalah organisasi profesi guru yang sangat nyata perannya dalam mengubah dunia pendidikan di Indonesia.

Selamat untuk IGI. I love you very…very much.

Surabaya, 6 Februari 2019
Satria Darma
Pendiri dan Ketum IGI periode pertama

Senin, 07 Januari 2019

Hujan diantara dua propinsi

Kalau membaca judul entah apa yang ada dipikiran pembaca. Ini cerpenkah? Atau apa. 
Maaf jangan membayangkan tulisan ini tentang cerita fiksi apalagi fiktif. Ini hanya pengalaman mengikuti sebuah pelatihan online yg diselenggarakan oleh seameo yaitu organisasi kementerian pendidikan se Asia Tenggara. 
Jelang tiga tahun sudah saya sendiri bergelut di dunia pelatihan dalam jaringan. Baik sebagai peserta atau juga sebagai panitia. 
Berdomisili di daerah yang kemampuan jaringan internet yang belum stabil menjadi cerita panjang bahkan menjadi suka duka dalam mengikuti kegiatan ini. Disaat teman-teman di pulau lain menikmati jaringan yang lebih cepat. Bahkan gratis karena fasilitas sekolah, saya masih harus berjuang memenuhi hasrat belajar dengan membeli kuota internet secara pribadi meski kadang harga tidak bersahabat dengan kantong celana. 
Tahun lalu untuk pertama kalinya diadakan virtual coordinator training atau VCT dimana kegiatan ini bertujuan melahirkan SDM yang bersertifikasi sebagai penyelenggara pelatihan online. Saya sendiri adalah peserta. Semua peserta diwajibkan tampil dua kali sebagai pemateri, dua kali sebagai host dan dua kali juga sebagai moderator. Sebelum kegiatan ini sebenarnya saya sudah pernah melakukannya. Termasuk sebagai panitia di SADAR IGI dan Admin Seminar Online Selasaan tentu memberikan pengalaman dan ilmu yang cukup untuk mengikuti vct ini. 
Berbicara manfaat tentu saja manfaatnya luar biasa, berbagi ilmu, bersilaturahmi dan menambah wawasan adalah sedikit banyak dari manfaat itu. Saling menginspirasi, memotivasi dengan semangat sharing and growing together sangat kuat mewarnai kegiatan ini. Hal ini juga yang saya alami, tepatnya saat mendapat jadwal tampil. Kondisi sangat cerah hari itu. Matahari cukup menyengat meski itu masih jam 10 pagi. Seperti biasa saya selalu meNikmati jika berada di lab. Ipa banyak hal yang bisa saya kerjakan. Termasuk memikirkan media media non ICT apa yang bisa saya kembangkan lagi. Pemateri pertama berjalan dengan baik, lancar. Materinya keren, salut pokoknya. Giliran berikut nya saya. Materi yang saya bawakan itu desain e flyer sederhana dengan ppt. Sederhana tapi bagian flyer ini sangat dibutuhkan dalam promo kegiatan. Saat akan tampil yang saya khawatirkan terjadi hujan deras. Nah inilah masalahnya karena kalau hujan jaringan kami pasti down. Bahkan ilang. Saya wa pak koordinator minta dipindahkan saja. Kemudian diberi kesempatan pindah sehabis dhuhur ternyata masih belum bisa. Sayapun ijin untuk berpindah koordinat ke sulsel. Biasa weekend selalu saya manfaatkan mengunjungi mertua. Sejak dulu juga kalau weekend saya tidak ingin diganggu. sepanjang perjalanan pun hujan.
Tiba pukul 4 sore. Seminar sesi 5 masih berlanjut. Sampai sesi 6. Sayapun belum tampil. Hujan masih deras. Saya sudah berpikir untuk tidak tampil sajalah. Tapi dorongan semangat teman2 tim vct sulawesi luar biasa masih diberi kesempatan habis magrib. Alhamdulillah setelah itu semua berjalan lancar dengan bantuan guru hebat yang lain. 
Saya sudah menbagikan materi di group sebagai  bahan referensi bagi yang ingin belajar desai sederhana. 
Batch  I sudah selesai alhamdulillah menjadi salah satu yang lulus. Terima kasih SEAMEO terima kasih semua guru guru hebat. Semoga berberkah. 


ABDUL MUJID


Sabtu, 05 Januari 2019

Virtual Coordinator Training Online Batch II

Revolusi Industri 4.0, SIAPA TAKUT??!!

Hallo Indonesia 🙂

Kami menantang Anda yang kreatif dan inovatif untuk menjadi Virtual Coordinator!

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif " the promises" tapi juga sisi negatif " the perils”. Mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “berhadapan” dengan revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing. Jika tidak siap menghadapi, beberapa sisi negatif industri 4.0 seperti disruptive effect, ketimpangan ekonomi, dan pengangguran massal karena automation effect akan menghantui Indonesia. Oleh karena itu, kita harus sigap dan ‘gercep’ untuk mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi di tingkat nasional untuk menghadapinya, khususnya di bidang Pendidikan.

Salah satu gebrakan yang dipersembahkan oleh SEAMEO Secretariat dan guru-guru untuk Indonesia adalah program Virtual Coordinator Training (VCT). VCT adalah pelatihan mengelola training online. Dengan VCT, diseminasi pengetahuan baru yang terupdated dari Sabang sampai Merauke akan mudah dan relatif cepat dilakukan. Adapun kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam VCT, yaitu:
1. Teknik rekrutmen peserta secara ol
2. Menulis narasi promosi kegiatan yang ‘cucok’ dan memikat
3. Mengkreasi room video conference
4. Teknik menjadi narasumber
5. Presentasi kegiatan ol
6. Mendokumentasikan kegiatan dan berbagi di social media dan youtube.

Tuh kan, seru banget bukan??? 🌞💐🌞 So, siap kah untuk menjadi guru hebat anti mainstream yang siap dengan tantangan industri 4.0?

Yuk daftar aja di sini  dan batas pendaftarannya hanya sampai 13 Januari 2019 loh.

Jangan sampai ketinggalan untuk menjadi pionir dan pendobrak Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 ya 🙂

Salam digital ❤
sharing and growing together

Virtual Coordinator Training Online



SEAMEO Capacity Building
of Virtual Coordinators:

Kompetensi Abad 21
Bagi Anggota SEAMEO  School Hub

13 - 15 November 2018
                                             Secretariat SEAMEO Bangkok, Thailand

1.             LATAR BELAKANG

Dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Asia Tenggara dengan menggunakan teknologi ICT modern dengan sejumlah besar peserta, dan skala ekonomi untuk pelaksanaannya, Sekretariat SEAMEO bekerja sama dengan 21 Pusat Regional SEAMEO dan lembaga eksternal telah mengembangkan program pengembangan kapasitas yang disebut “SEAMEO Online Lecture Series and Training Programmes”.    
SEAMEO Online Lecture Series and Training Programmes bertujuan untuk pengembangan kapasitas pembuat kebijakan, pendidik, praktisi, peneliti, administrator sekolah, dosen, guru, dan siswa di negara-negara Asia Tenggara yang difasilitasi oleh platform online; khususnya, WebEx dan MOOCs, dirancang untuk E-learning dan meningkatkan pengetahuan. Ditunjang dengan keahlian dosen dan pelatih yang sangat berkomitmen, kuliah dan program pelatihan berbagai topik akademis sudah dan sedang dilaksanakan sepanjang 2017-2018.
Mulai Maret 2017, Sekretariat SEAMEO telah menjalankan program ini sebagai fasilitator utama dan lembaga koordinasi. Ini melibatkan semua tindakan promosi, pendaftaran, hosting / moderasi sesi, dan pembuatan sertifikat; sementara nara sumber dibawa oleh Pusat SEAMEO yang berkolaborasi dan lembaga eksternal untuk berbagi pengetahuan mereka.
Sebagai tanggapan terhadap arahan untuk memperluas pengembangan kapasitas untuk skala audiens yang lebih besar, SEAMEO Secretariat (SEAMES) akan menyelenggarakan “Capacity Building untuk guru-guru Indonesia pada proses dan pengalaman terbaik untuk menjadi Virtual Coordinator pada diklat dalam jaringan. Pelaksanaan workshop sifatnya tentatif yang direncanakan mulai tanggal 13 s.d 15 November 2018.


2.             TUJUAN

SEAMEO Online Virtual Coordiator Program bertujuan untuk:
1. Meningkatkan kemampuan guru Indonesia dalam memberikan kursus online; khususnya melalui platform WebEx.
2. Memperkenalkan seluruh proses kerja kelas online, serta untuk berbagi praktik terbaik bagian dari pelatihan online dalam bentuk program pelatihan.


3.             TEMPAT DAN WAKTU
 Pelatihan berlangsung secara tentatif dengan perkiraan waktu 20-28 Januari 2019 . Sesi kegiatan berlangsung dalam jaringan melalui video conference dengan platform webex

4.             PESERTA

Peserta kegiatan ini terdiri dari guru-guru di Indonesia yang berpartisipasi dalam program SEAMEO School Hub


5.             KONTEN WORKSHOP

Workshop disampaikan dalam Bahasa Indonesia dengan cakupan berikut;
·      Pengantar SEAMEO SEAMEO Online Lecture Series and Training Programmes
·     Penggunaan platform Konferensi Video berbasis Webex secara online (WebEx) dalam pelatihan.
·     Seluruh proses kerja dan praktik terbaik yang terlibat dalam melakukan dan menyelenggarakan sesi online. Topik pelatihan difokuskan pada ketrampilan mengelola pelatihan online.

Rincian proses kegiatan secara singkat sebagai berikut:
1.  Promosi: Teknik mempromosikan kegiatan melalui persiapan material (Flyer digital  berisi pengumuman kegiatan dan detil narasi kegiatan), pendaftaran online dan mengkreasi room.
2.   Implementasi: Materi yang dibutuhkan, teknik membuka room webex, teknik mengelola webex, Penyediaan narasumber dan menjadi narasumber, menjadi host dan menjadi moderator sesi dalam jaringan serta presensi kegiatan online.
3.   Dokumentasi : Teknik merekam kegiatan, teknik mengupload ke youtube dan share ke sosial media.
4.  Peserta yang memenuhi kualifikasi dan kelayakan akan berhka menerima Sertifikat sebagai Virtual Coordinator’s Training.

6.             HASIL YANG DIHARAPKAN
Pada akhir kegiatan Workshop, peserta diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut :
  • Peserta akan dapat melaksanakan seluruh proses workshop; termasuk mempromosikan kegiatan, membuat formulir pendaftaran online, menjadi host atau moderator serta menghasilkan e-sertifikat
  • Peningkatan kapasitas peserta untuk berbagi pengetahuan
  • Peserta yang memenuhi syarat akan menerima sertifikat Virtual Coordiantor Training

7.             PERSYARATAN PESERTA
Peserta kegiatan yang direkomendasikan memenuhi syarat sebagai berikut:
·      Pendidik yang mempersiapkan sebuah topik yang akan dibagi untuk pengetahuan bagi yang lain yang terstruktur dalam suatu program.
·         Semua peserta diharuskan menggunakan laptop atau tablet
·         Semua peserta harus memiliki kemampuan komputer terutama berinternet.


8.             STRUKTUR KEPANITIAAN
Penanggung Jawab         :    Gatot Hari Priowirjanto
                                             (Direktur SEAMEO)

Tim Ahli                         :    Achmad Purnomo
                                             Sajarwo Anggai

Ketua                              :    Khairuddin
Anggota                          :    Siti Zulaiha
                                        :    Umi Tira Lestari



9.             CONTACT PERSON

Khairuddin
SMA Negeri 1 Nurussalam Aceh Timur
WA     :  +62 85277634479

Siti Zulaiha
SMP Negeri 1 Baturetno Wonogiri Jawa Tengah
Email   :  zona.zuleyka@gmail.com
WA     :  +62 82243955259

Umi Tira Lestari
SMK Ranti Mula Bogor Jawa Barat
WA     :  +62 8989529830

Achmad Purnomo Wijaya
SEAMEO Secretariat Bangkok
Email   :  purnomo@seameo.org
WA     :  +66 966505835

Sajarwo Anggai
SEAMEO Secretariat Bangkok
Email   :  sajarwo@seameo.org
WA     :  +62 85233464648




Jumat, 12 Oktober 2018

Motivasi Diri

Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecendrungan negatif atau pesimis....

karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu....

sadarilah tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha....

mimpi itu untuk diwujudkan... 

Senin, 09 Januari 2017

SERTIFIKASI, TUNJANGAN PROFESI ATAU TUNJANGAN KESEJAHTERAAN!

Sudah profesionalkah guru-guru setelah program sertifikasi dilaksanakan? Atau hanya sekedar meningkatkan kesejahteraan guru? Satu dekade program sertifikasi guru telah dilaksanakan oleh pemerintah. Program yang bertujuan untuk meningkatkan status pekerjaan guru menjadi profesi sehingga mereka layak diberikan tunjangan sertifikasi yang saat ini lebih popular disebut sebagai TPP atau tunjangan profesional pendidik. Sejak di sahkannya undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 maka status guru sebagai PNS biasa saja resmi menjadi pekerjaan profesi yang artinya setara dengan dokter, pengacara, akuntan dan lain sebagainya.
Sejak itu kehidupan para guru yang telah melalui proses sertifikasi mulai membaik, kesejahteraan mereka tidak lagi seperti dulu, sekarang sebagian guru-guru sudah mulai banyak memiliki kendaraan roda empat yang jauh sebelum itu mungkin saja mereka tidak pernah memikirkannya. Kita kembali ke jaman sebelum sertifikasi dilakukan. Kehidupan guru masih sangat sederhana, predikat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sangat melekat, mereka melaksanakan tugas betul-betul dengan niat ikhlas semata-mata ingin menciptakan generasi-generasi terbaik, generasi yang kedepan diharapkan mampu mengelola negeri ini dengan baik.
Sangat memperihatinkan jaman itu, bahkan perguruan tinggi negeri dan swasta dengan basis pendidikan atau pencetak guru pada waktu itu sangat sedikit dilirik oleh mereka yang akan melanjutkan kuliah. Para lulusan-lulusan terbaik sekolah menengah saat itu tidak ada yang tertarik untuk menjadi guru, mereka ketika di tanya tentang cita-cita dari 30-an peserta didik dalam kelas mungkin hanya satu dua orang yang bercita cita menjadi guru, itupun para siswa yang secara akademik memiliki kemampuan dibawah rata-rata. Mereka dengan kemampuan akademik di atas rata-rata ketika ditanya lebih banyak menjawab untuk menjadi dokter, insinyur, menjadi pegawai bank, menjadi arsitek. Sangat dimaklumi, mungkin mereka melihat bahwa rata-rata kehidupan guru waktu itu kurang layak, dan dalam benak mereka kedepan harus berkehidupan yang lebih baik.
Itulah yang terjadi sebelum UUGD no. 14 tahun 2005 di sahkan. Hari ini kita melihat perbedaan yang cukup mencolok, setiap tahun PTN dan swasta pencetak guru selalu ramai. Contohnya saja antara UNM dan UNHAS hampir berimbang dalam hal peminatan. Lulusan terbaik sekolah menengah tidak lagi memandang UNM sebagai pilihan terakhir, tetapi sudah mulai dilirik menjadi pilihan utama, alasannya kesejahteraan guru saat ini sangat menjanjikan. Setiap tahun penerimaan tenaga-tenaga pengajar baik nageri maupun swasta menjamur dengan tawaran penghasilan yang cukup tingggi bahkan kadang bisa dibilang fantastik. Sekolah-sekolah swasta di ibukota-ibukota propinsi sebut saja misalnya Sekolah Islam Athira gaji guru-gurunya bisa mencapai 4 sampai 5 juta perbulan sebuah angka yang terbilang tinggi bahkan setara dengan gaji guru pns golongan 4a yang sudah mengabdi 20 tahunan.
Profesi apapun jika sudah berlabel profesional maka selayaknya memang mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi atau mendapatkan bayaran lebih atas lelah dan kerja kerasnya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia arti profesional adalah memiliki keahlian khusus, itu artinya guru harus memiliki segala macam kemampuan baik itu pengetahuan yang menunjang dalam melaksanakan profesinya. peluncuran guru sebagai profesi oleh Presiden bapak SBY merupakan angin segar bagi para guru yang lemudian ditindak lanjuti setahun kemudian dengan diterbitkannya UUGD no 14 tahun 2005 tepatnya tanggal 15 Desember 2005. Keseriusan pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup guru terlihat dari penerbitan UU tersebut. Menurut UUGD no 14 tahun 2005 bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Bab I, Pasal 1). Jika merujuk pada UU ini maka yang di sebut guru adalah yang telah memperoleh sertifikat pendidik sebagai mana dimaksud dalam UU tersebut. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana kondisi pendidikan setelah diberlakukannya sertifikasi guru? Apakah kualitas pendidikan meningkat? Apakah kompetensi guru juga meningkat? Faktanya apa yang terjadi sekarang ini belumlah menunjukkan perubahan signifikan, kualiatas pendidikan kita masih rendah, bahkan merujuk pada satu bagian saja misalnya literasi dalam sebuah penelitian Indonesia hanya berada di peringkat dua dari bawah dari 61 negara.
Hal ini berarti seandainya survei yang dilakukan hanya 60 negara maka indonesia berada pada peringkat terakhir. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa di indonesia rata rata penduduknya dalam setahun hanya mampu menyelesaikan satu buku. Hal ini menjadi tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia dan beban itu lagi-lagi ada di pundak guru. Guru tidak boleh berhenti ketika sudah diberikan tunjangan sertitikasi (baca: tpp). Guru harus selalu mengupgrade dirinya, harus selalu berusaha meningkatkan kompetensinya. Secara nasional berdasarkan hasil UKG 2015 yang lalu masih cukup rendah hanya berada di angka kurang lebih 56,69.
Meskipun banyak yang menyangkal bahwa hasil UKG itu tidaklah menggambarkan secara utuh kompetensi guru, tetapi paling tidak, hal ini bisa menjadi renungan bagi guru-guru itu sendiri, sebenarnya tidak mengherankan juga jika hal tersebut terjadi karena kebanyakan terlena setelah menerima tunjangan mereka menganggap itu adalah untuk kesejahteraan, setelah menerima tunjangan ada sebagian yang langsung membeli mobil, naik haji, membangun rumah, dan hanya sekitar 14 % saja yang digunakan peningkatan mutu dan kompetensi. Tidak salah dan sangat dimaklumi tetapi harusnya juga diimbangi dengan upaya dalam hal peningkatan kualitasnya sebagai guru. Seorang guru profesional haruslah menguasai segala macam keterampilan dan kompetensi mengajar yang salah satunya adalah kemampuan IT dan literasi. Setiap guru harusnya sudah bisa menggunakan laptop maupun PC, sudah memiliki infocus sendiri, paling dan membeli berbagai macam buku untuk referensi serta mampu menguasai IT karena hal inilah yang dapat menunjang dalam profesinya.
Perlunya membangun pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan agar peserta didik belajar dengan baik. Hal ini akan dapat diwujudkan jika kompetensi mengajar guru guru sudah baik pula. Jika itu terjadi maka sesungguhnya kejadian kejadian orang tua melaporkan guru ke polisi atau tindak kekerasan kepada anak tidak perlu terjadi. Cuma sayangnya yang terjadi dilapangan adalah tunjangan sertifikasi lebih cenderung ke tunjangan kesejahteraan, minat guru terhadap kegiatam seminar dan pelatihan berbayar sangatlah kurang. Mereka mau mengikuti pelatihan jika itu dibiayai oleh pemerintah yang kadangpun pelaksanaannya dan hasilnya kurang efektif. Perubahan persepsi dari tunjangan profesi ke tunjangan kesejahteraan wujud dari penghidupan para guru yang kurang layak dimasa lampau. Kita pun tidak bisa menafikan hal tersebut, tapi setidaknya ada kesadaran jua oleh para guru untuk tetap berusaha melengkapi diri dengan kompetensi mengajar yang baik. Lahirnya organisasi organisasi profesi merupakan perwujudan kesadaran guru untuk mengembangkan diri juga merupakan amanah UU sebagaiman dimaksud bahwa guru wajib menjadi anggota organisasi profesi. Salah satu organisasi profesi yang juga telah diakui oleh pemerintah dan telah di sahkan oleh kemhumkan adalah IGI. IGI lahir atas kesadaran bahwa guru harus senantiasa meningkatkan kompetensinya. Bersama IGI kita menyonsong era pendidikan yang berkualitas yang setara dengan negara negara maju lainnya di dunia.

Alu, 18 Juni 2016
ABDUL MUJID

SEKRETARIS  IGI POLMAN

Pemisahan Campuran

Pemisahan Campuran – Pada umumnya zat di alam ditemukan dalam bentuk campuran atau senyawa. Untuk men-dapatkan suatu zat dalam bentuk murni, maka harus dilakukan pemisahan. Pemisahan dapat dilakukan tergantung jenis dan ukuran zat tersebut.

Pemisahan CampuranJenis-jenis dan Dasar Pemisahan Campuran
1. Filtrasi (Penyaringan)
Teknik penyaringan ini berdasarkan pada perbedaan ukuran partikel, sehing-ga digunakan untuk memisahkan campuran yang ukuran partikel zat-zat penyusunnya berbeda. Hasil pemisahan zat dengan cara penyaringan ditentukan oleh :
a. tingkat kerapatan alat penyaring.
b. ukuran partikel zat yang disaring.
c. jenis zat yang disaring.
Prinsip dasar penyaringan banyak dimanfaatkan dalam kehidupan se-hari-hari seperti pada penjernihan air kotor, industri kecap, industri tahu dan susu kedelai, industri sirop, industri tepung kanji, dan pemisahan antara gas oksigen dan nitrogen.
2. Distilasi (Penyulingan)
Prinsip distilasi adalah menguapkan suatu zat kemudian mengembunkan kembali. Distilasi dapat dilakukan karena adanya perbedaan titik didih antara zat-zat yang terkandung dalam larutan. Prinsip distilasi banyak dimanfaatkan dalam industri minyak, pembuatan air murni, pembuatan minyak kayu putih, dan minyak atsiri.
3. Evaporasi (Penguapan)
Dasar pemisahan dengan cara eva-porasi adalah perbedaan kemampuan menguap dari zat-zat dalam larutan. Kecepatan penguapan dipengaruhi oleh luas permukaan wadah. Semakin
luas permukaan wadah maka semakin cepat penguapannya. Pemisahan zat dengan penguapan biasanya untuk mendapatkan zat padat yang larut dalam zat cair. Prinsip dasar pemisahan dengan cara penguapan ini dimanfaatkan petani garam. Mereka membendung air laut, kemudian menguapkannya dengan memanfaatkan panas cahaya mata-hari.
4. Sublimasi
Pemisahan zat dengan sublimasi adalah pemisahan zat dari campur-annya dengan cara memanaskan cam-puran sehingga zat yang diinginkan menyublim. Digunakan untuk memisahkan zat padat dalam zat padat. Contohnya pemisahan iodium dengan campurannya.
5. Kromatografi
Prinsip dasar kromatografi adalah memisahkan zat terlarut berdasarkan perbedaan kelarutannya dalam zat pelarut. Setiap zat kimia mempunyai kece-patan perambatan yang berbeda-beda pada kertas kromatografi sesuai sesuai kelarutannya dalam pelarut tertentu. Metode kromatografi ini sangat ber-guna untuk memisahkan dan meng-identifikasi zat-zat kimia dalam jum-lah sedikit. Misalnya zat pewarna ma-kanan, herbisida, dan pestisida yang terdapat dalam buah dan sayur.
6. Ekstraksi
Pemisahan dengan cara ekstraksi didasarkan pada perbedaan kelarutan zat dalam pelarut.
Ada dua jenis pelarut, yaitu :
a. Pelarut polar
Pelarut yang dapat larut atau bercampur dengan air.
Contoh : air dan alkohol
b. Pelarut non polar
Pelarut yang dapat larut atau bercampur dengan minyak atau lemak. Contoh : eter dan aseton.
Materi selengkapnya klik link di bawah ini :

Kamis, 08 Desember 2016

Kemegahan ILMU

Lautan Luas pun adalah sebuah Sumber ILMU
Kalimat itu tiba-tiba muncul dalam benak saya, tentu saja kalimat ini mempunyai makna yang cukup luas. ILMU adalah bentuk harta yang senantiasa menjadi teman kemana saja. harta yang kita tidak perlu menjaganya. tetapi senantiasa setia menjadi pendamping dalam mengarungi hidup. menata langkah dan menjawab segala tangangan dan rintangan. 
ILMU mampu membuat orang menginjakkan kaki kemana saja. ILMU membuat manusia bisa berada pada tempat yang sangat dihormati, bisa juga sebaliknya. kita hanya perlu bijaksana dengannya. 
"Kemegahan Ilmu" dalam sebuah status Fb yang saya posting adalah masih sebatas judul adalah sebuah keinginan untuk menjadikannya sebagai sebuah karya yang bermanfaat di masa  yang akan datang. karya yang insya Allah akan bermanfaat buat orang banyak.

coretan coretan pengantar

Senin, 28 November 2016

Ikhlas dan Mimpi yang Terwujud


Hujan deras terus mengguyur Polewali Mandar kala itu, sudah seminggu ini hujan tak berhenti membasahi bumi tipalayo. Matahari yang tak pernah terlihat muncul dari peraduannya alamat membawa kekhawatiran masyarakat. Dan puncaknya Hari sabtu 10 Januari 2009 hal yang dikhawatirkan itu terjadi Banjir Bandang melanda Polewali Mandar. Ini adalah kejadian setiap 10 tahunan yang melanda bumi Tipalyo, sebelumnya 1987, 1998 dan yang terakhir ini 2009, semoga kedepannya tidak lagi terjadi.
Beberapa hari sebelumnya, berita gembira telah saya terima pengumuman hasil tes CPNS untuk kabupaten Polewali Mandar dikeluarkan dan Alhamdulillah saya salah satu diantaranya. Suatu kesyukuran yang teramat sangat atas limpahan rezeki dari Allah SWT. Dan dari sinilah cerita ini dimulai.
Tujuh tahun yang lalu kata orang menjadi alumni jurusan yang terbilang dan terkenal menjadi momok bagi siswa sedikit membawa angin segar pada saat penerimaan CPNS kala itu. Yah keberanian mengambil Jurusan Pendidikan FIsika telah memberikan jalan rejeki yang mudah untuk melewati satu fase dalam hidup dalam proses menjadi seorang yang mandiri. Sebuah tanggung jawab ketika telah menyelesaikan pendidikan jenjang s1 adalah memiliki pekerjaan yang tetap dan terlepas dari tanggungan orang tua, meskipun sejak kuliah juga sudah tidak terlalu bergantung sama kiriman orang tua.
Seminggu sudah kejadian banjir itu menimpa daerah kami, tersebutlah daerah yang paling parah dan terdapat korban jiwa satu keluarga memicu rasa penasaran saya untuk berkunjung sekedar melihat dan mungkin saja bisa membantu ala kadarnya. “Petoosang” nama kampong itu, sebenarnya juga bukan kampong-kampung amat karena merupakan ibukota kecamatan Cuma jarak yang lumayan jauh dari kabupaten dan akses jalan yang lumayan parah membuat daerah ini termasuk dalam daerah terpencil. Bersama beberapa teman kami berkunjung kesana, kurang lebih 30 menit dari kampong saya untuk mencapai daerah tersebut.
Yang pertama kali saya lihat adalah sebuah sekolah yang pintu gerbangnya telah hancur, dan halamannya yang dipenuhi tumpukan kayu pohon yang setinggi atap sekolah. Yang ternyata sekolah itulah tempat saya mengabdi sampai hari ini. Sekolah yang bisa dibilang jauh dari kata fasilitas yang memadai, kurang bahkan mungkin sangat kurang untuk sebuah sekolah yang berada di ibukota kecamatan. Sekolah inilah yang telah mampu memberi saya peluang untuk menginjak ibukota negara secara gratis.
Sekolah yang telah memberikan prestasi dari tingkat kabupaten sampai propinsi bahkan tingkat nasional meskipun tidak menjadi yang pertama. Sekolah dengan sagala keterbatasannya, sekolah dengan karakter siswanya yang luar biasa, sekolah yang siswa siswinya harus menempuh jarak 2 sampai 3 jam perjalanan kaki, sekolah yang siswa-siswinya harus melewati 3 sampai 4 anak sungai dan sungai besar, sekolah yang siswa siswinya harus menuruni pegunungan setelah shalat subuh agar tak terlambat. Sekolah yang sampai hari ini tempat saya mengabdi dan telah memberikan banyak cerita.
Bulan Agustus selalu menjadi bulan yang penuh kebahagiaan, utamanya tanggal 17 Agustus 2009. Bukan hanya karena bulan ini adalah bulan kemerdekaan bangsa Indonesia tapi juga merupakan bulan kemerdekaan bagi saya untuk benar benar mampu hidup mandiri. Tidak disangka penempatan pengabdian adalah tempat dimana beberapa bulan sebelumnya saya kunjungi karena bencana alam.
Dan saat itulah tekad dalam dada untuk membuat sesuatu yang baru, sesuatu yang dalam pikiran saya  akan bermanfaat buat sekolah ini, di benak saya ada tiga hal di tiga tahun pertama harus saya capai di sekolah ini. Terkenal sejak smp menjadi siswa yang bisa dibilang tergolong yang menonjol ternyata sudah beredar di sekolah yang akan saya tempati, karena ternyata Kepala Sekolahnya adalah Guru Seni saya waktu SMP dulu. Tentu saja hal tersebut awalnya menjadi beban karena pasti diharapkan bisa meningkatkan mutu sekolah (ini sedikit geer hihihi).
Harapan tersebut adalah tantangan yang mesti dijawab. Tantangan yang sekaligus motivasi untuk diwujudkan. Kualitas diri akan semakin meningkat ketika ada tantangan. Itulah dipikiran saya waktu itu, yah biasalah jiwa mudanya masih sangat terasa saat itu (sekarang juga sih masih muda hihihih). Tentu tidak mudah mewujudkan hal tersebut, dan sejak itu juga saya mulai merancang apa yang harus dilakukan, merencanakan kegiatan apa yang bisa dilaksanakan untuk mengangkat nama sekolah, paling tidak untuk tingkat kabupaten.
Setidaknya ada 3 hal yang dibenak saya dan saya cita-citakan untuk diraih di tiga tahun pertama dalam pengabdian ini, cita-cita ini merupakan amunisi sekaligus motivasi diri selain harapan yang diberikan sekolah waktu itu. Di sekolah kegiatan ekstrakurikuler siswa masih sangat kurang, tidak ada guru yang mengambil inisiatif untuk memulai, maklum mungkin karena rata-rata gurunya adalah  guru-guru senior yang sangat sibuk juga dengan urusan keluarga atau mungkin saja karena honor untuk kegiatan nilainya masih kecil (untuk yang ini wallahu A’lam).
Majalah Dinding
Beberapa minggu mengajar saya mulai memperhatikan beberpa siswa yang tergolong aktif. Saya pikir mereka bisa diajak berdiskusi untuk memulai rencana saya ini yakni membuat “Majalah Dinding” yang diurus oleh siswa. Selain beberapa siswa ini saya juga mengajak beberapa guru tidak tetap dan Alhamdulillah dapat respon dengan baik pula. Alhamdulillah saya semakin yakin bahwa salah satu kegiatan ekstrakurikuler ini akan terwujud. Awalnya hal ini belum saya konfirmasikan ke kepala sekolah, niatnya  mau buat “suprise”. Karena masih sendiri yah mengeluarkan dana pribadi masih bukan masalah hehehe. Mengambil waktu sepulang sekolah agar tidak menggangu kegiatan pembelajaran, saya kumpulkan siswa-siswa tadi dan guru yang bersedia jadi Pembina juga, apapun yang dibutuhkan saya siapkan, kebetulan saya tinggal dekat toko atk jadi mudah juga ketika ada keperluan. Hari itu sabtu karena rencana launchingnya adalah sesaat setelah upacara biar semua siswa langsung menikmati, sekaligus tujuan adalah menumbuhkan kemauan membaca dalam bentuk yang lain selain harus terpaku di depan buku.
Dan jreenggg setelah kepala sekolah meresmikan majalah dinding kami, Alhamdulillah mendapat apresiasi dan selanjutnya sekolah siap mendanai setiap kebutuhan dalam penerbitan penerbitan selanjutnya. semakin banyak siswa yang tertarik untuk bergabung atau sekedar mengirimkan tulisan mereka, kami memang belum menerapkan aturan baku penulisan, kami hanya ingin membuat mereka merasa senang dulu, nanti kemudian akan dilaksanakan pelatihan jurnalistik buat siswa.
Maaf lupa para pengurusnya menamai Mading Spentu (Majalah Dinding SMP N 1 Tutallu), Tiap minggu mading spentu ini terbit, tidak lagi Cuma siswa yang mengisi, tetapi guru-guru mulai tertarik juga untuk menampilkan tulisannya. Alhamdulillah kami sangat bahagia. “Usaha kecil tak akan pernah sia-sia” itulah yang selalu saya tekankan kepada mereka. Serta jangan lupa bekerja dengan “IKHLAS”.
Melihat antusiasme semua pihak saya semakin yakin bahwa mimpi-mimpi saya selanjutkan akan terwujud, rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT karena hal pertama yang ingin saya capai terwujud.
Tentu saja usaha kecil untuk mengangkat nama sekolah setara dengan sekolah sekolah lainnya di kabupaten Polewali Mandar tidak berhent sampai disitu. Justru sesungguhnya perjuangan itu baru dimulai. Sebagai guru yang berlatar belakang ilmu pasti dan menyenangi IT, maka saya mencoba mengenalkan mereka lebih jauh tentang IT yah, paling tidak bagaimana mengoperasikan komputer dan laptop meski programnya masih sebatas Office. Oh iya, kesenangan saya ke IT ini memiliki sejarah khusus loh, tapi dilain kesempatan akan saya ceritakan heheheh……
Sedikit bahasa provokasi dan mengompori mereka yang beberapa diantaranya sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi untuk segera memiliki laptop sendiri, saya mengatakan “jangan takut membeli, jangan takut mengutak atik, kalau ada masalah nanti saya yang tangani” (hahaha sedikit sombong ini, tapi gak papalah kan buat kebaikan mereka juga). Dibidang IT ini pulalah mimpi saya yang ketiga tercapai. Nah loh koq mimpi yang ketiga, mimpi yang kedua mana ya??? Sabar pemirsa…...
Mengantarkan Siswa Lolos OSN ke Propinsi
Yang tadi penasaran atau gak sama sekali, inilah mimpi saya yang kedua. Saya memikirkan bahwa salah satu cara untuk mensejajarkan sekolah kami dengan sekolah lainnya adalah prestasi dan waktu itu event yang paling dekat adalah olimpiade sains nasional (OSN) tingkat kabupaten. Tentu bukan hal yang sulit untuk sekedar ikut, menemukan 4 orang yang berbakat untuk ikut dengan spesialisasi pelajaran masing-masing juga bukan hal sulit, dari sejak awal saya memperhatikan siswa-siswi yang memiliki pengetahuan lebih dibanding yang lainnya. mereka adalah Sidrah Yusraa sekarang sudah kuliah jurusan Akuntansi padahal dulu sangat senang dengan Fisika, Nur Athirah sekarang kuliah Keperawatan yah cocok dengan pelajaran kesukaannya Biologi, Andini Sukmawati sayangnya hari ini saya tidak mendengar kabar penyuka Matematika ini, dan yang terakhir Dilla sukriani bidang IPS sekarang sambil kuliah nyambi ngajar IT di SMA dikampungnya. Sekarang mereka semua sudah Gadis hehehe bukan itu yang penting, kangen mereka…
Keempat siswi siswi yang luar biasa inilah yang menambah keyakinan saya untuk meraih mimpi yang kedua ini. Saya kumpulkan mereka di lab IPA yang sangat sederhana dan terbatas waktu itu, saya menyampaikan keinginan untuk mengikutkan mereka, tapi harus siap menerima pelajaran tambahan, mereka harus rela untuk tinggal lebih lama di sekolah disaat teman-teman nya sudah pulang kerumah. Dan jawabannya menggetarkan hati saya, tanpa berpikir panjang keempatnya sontak menjawab “siap pak”. Alhamdulillah kata pertama yang keluar dari mulut saya waktu itu.
Nak kita tidak mengejar menjadi juara tapi kita harus memberikan yang terbaik, setiap usaha tidak akan pernah sia-sia jika hari ini Allah tidak langsung membalasnya mungkin saja dikemudian hari disaat yang tidak disangka-sangka” wuih nasehat pertama untuk memulai pembimbingan (sok sok bijaksana ini). Karena ini menggunakan waktu diluar jam kerja, agak sulit waktu itu meminta kesediaan guru masing-masing mapel untuk ikut andil, tapi itu tidak menyurutkan langkah untuk ikhtiar ini. Saya melakukannya sendiri, saya menjadi pembimbing matematika ini sih gak masalah soalnya mapel hobby saya ini hahaha... Fisika dan biologi apalagi jurusan saya, tapi yang agak sulit IPS harus banyak membaca, tapi gak masalah lah mereka gak boleh kecewa itu yang utama.
Kegiatan pelajaran tambahan persiapan OSN pun berlangsung, jangan membayangkan semua berlangsung indah ya… kami makan siang seadanya, apa yang mereka makan itu juga yang saya makan, tidak membedakan, kadang juga mengeluarkan biaya pribadi membeli cemilan, saya berusaha membuat mereka nyaman meskipun dalam kesederhanaan. Bercanda, serius, usil mewarnai kegatan ini, rasa persaudaraan mereka terikat begitu erat, Alhamdulillah hingga tiba masanya lomba itu diadakan, saya bersama Kepala sekolah mengantar mereka, ah tak disangka sesaat ketika bertemu dengan peserta yang lain merekapun ditanya dari sekolah mana? Mereka menjawab dari SMPN 1 Tutallu, nah apa jawabannya peserta yang lain jreeenggg “itu sekolah dari mana?” lah emangnya Tutallu gak ada dalam google maps, waaahhhh  sontak saja mereka melapor “Pak masa sekolah kita tidak dikenal” kata SIdrah, saya hanya senyum dan mengatakan gak papa, harus jadi motivasi untuk memperkenalkan sekolah kita dengan prestasi. Alhamdulillah akhirnya satu diantara mereka berhasil mewakili kabupaten Polman ke tingkat propinsi..
Alhamdulillah mimpi saya yang kedua pun Allah menjawabnya, meskipun Cuma satu yang lolos tapi satu kesyukuran karena keempatnya mendapatkan apresiasi dengan pemberian beasiswa.. semoga selalu sukses dalam aktifitas kalian nak, rindu mereka. Sidrah, Nunu, Sukma dan Dilla Terima kasih telah mewujudkan mimpi bapak. Dimanapun kalian berada meski gak membaca tulisan ini, dalam sujud bapak selalu mendoakan yang terbaik. “Tidak ada mantan Guru pun tidak ada mantan siswa”. 2010
Cerita yang lainnya kapan yah…. !!!! coming soon
Dan jreeeng inilah mimpi saya yang ketiga, semoga gak bosan ya bacanya.
Hadiah ultah dan doa yang diijabah
Tahun ketiga tepatnya 2012, nah ini tahun terakhir dari target kinerja saya di tiga tahun pertama, rasa deg deg, khawatir mimpi yang ketiga ini gak tercapai. Oh iya mimpi saya ketiga ini adalah entah siswa atau guru harus ada yang mencapai tingkat nasional. Tentu saja usaha lebih dibanding sebelumnya, mimpi ini bisa dibilang juga yang paling berat diantara dua mimpi saya sebelumnya. Meski dalam kondisi masih terbatas, keyakinan itu tidak pernah surut. Ini yang saya sampaikan sebelumnya kesenangan dengan IT inilah yang mengantarkan saya mewujudkan mimpi yang ketiga Alhamdulillah. Mau tahu ceritanya???? Singkat aja ya, berhubung ini sudah 6 halaman hehehe.
Berkenalan dengan seorang teman guru matematika guru SMA tetangga sekolah adalah bagian awal dari mimpi ini, beliau adalah instruktur TIK tingkat propinsi di SULBAR, sempat berdiskusi dan nyerempet masalah IT, dia ingat tentang info lomba Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis IT akan segera dilaksanakan, karena tahu saya senang dengan hal demikian kemudian dia mengirimkan suratnya, memberi beberapa referensi, jadilah saya belajar otodidak beberapa aplikasi yang saya pikir dapat menunjang untuk ikut lomba itu, Macromedia Flash 8 hanya dalam waktu 5 hari dan berhasil membuat media yang akhirnya saya kirim untuk seleksi.
Selang seminggu kemudian ada pengumuman karya karya yang dinyatakan lolos dan diminta untuk presentasi. Alhamdulillah nama saya termasuk didalamnya. Hmm langkah awal untuk mewujudkan mimpi yang ketiga. Surat undangan pun datang melalui email, surat tugas juga tidak berselang lama masuk di email saya. Saatnya persiapan berangkat, ijin sekolah sudah. Deg deg an, sekaligus semangat yang tetap terjaga, “tahun ini mimpiku yang ketiga harus terwujud” gumamku dalam hati sesaat setelah saya membuka mobil penumpang. “Pak, tahu tidak letaknya Hotel anugrah di mamuju?” tanyaku pada sopir. Maklum saya tidak terlalu mengenal daerah ibukota propinsi tersebut. “tahu pak” jawab sopir itu, “Alhamdulillah antar saya kesitu ya pak.” Alhamdulillah lebih tenang sekarang saya menikmati perjalanan kurang lebih 145 km atau dua setengah jam perjalanan. Singkat cerita setelah sampai melapor saya istirahat dikamar, malam baru pembukaan dan esoknya baru presentasi.
Keesokan harinya saya mendapat giliran ke 7 dari 10 peserta Alhamdulillah lancar, tinggal menunggu pengumuman, dan Alhamdulillah dapat peringkat ke tiga, meski bukan yang pertama tapi adalah anugrah yang luar biasa. Tentu saja asa mewujudkan mimpi yang ketiga masih ada.
Kami diberi kesempatan 4 hari untuk menyempurnakan karya untuk dikirimkan ketingkat nasional, semua yang juara dari berbagai kategori karyanya akan dikirimkan ke panitia ki hajar waktu itu. dan inilah puncaknya. Sebelum itu disuatu waktu sesaat setelah shalat isya saya pernah menuliskan sebuah koment di facebook di salah satu status Dosen saya waktu kuliah yang juga sudah seperti orang tua bagi saya, kedekatan itu karena sempat diberi kesempatan untuk menjadi asistennya.
Saya mengatakan waktu itu dan sebenarnya ini merupakan doa yang sebelumnya saya ucapakan di sujud terakhir shalat magrib malam itu. malam tanggal 3 nopember yang juga merupakan malam tanggal kelahiran saya. Koment sekaligus doa itu adalah “Saya hanya berharap dapat menginjakkan kaki saya untuk pertama kalinya di Ibukota Negara bukan karena jalan-jalan dengan biaya pribadi tetapi karena saya layak untuk menjadi wakil dari proipinsi sulbar ntah itu event apapun” sedikit terharu dan sempat menitihkan air mata pertanda harapan dan doa itu benar-benar tulus dan penuh keyakinan akan diijabah oleh Allah SWT.
Setelah menulis koment tersebut saya matikan hp dan menunggu untuk shalat isya, kembali doa itu saya panjatkan terutama di sujud terakhir. Setelah menyelesaikan wirid dan zikir. Selanjutnya makan malam, setelah itu baru saya buka kembali akun facebook dan mata saya melihat sebuah status di sebuah group sebuah screencapture sebuah surat pengumuman yang diposting oleh pak Ashar, sebuah group untuk guru-guru TIK se sulbar. Mata saya berkaca-kaca, tangan saya gemetar, badan saya terasa merinding, seakan tidak percaya bahwa pengumuman itu tentang karya yang lolos dalam ajang ki Hajar tingkat nasional, saya bersama dua orang teman lainnya dari sulbar dinyatakan lolos dari 10 karya yang diundang untuk presentasi, sujud syukur luapan kegembiraan itu pertama kali saya sampaikan ke Ibu yang memang sebelumnya saya minta doanya, Ibu lah yang selalu memberi support saat saya hampir 4 hari full berada didepan laptop yang tanpa henti kecuali shalat dan makan.
Inilah hadiah ultah yang paling berkesan sepanjang sejarah hidup saya sampai hari ini, hadiah ultah dan doa yang diijabah seperti yang tulis di atas, sesungguhnya bukan kelolosan tersebut yang membuat saya benar-benar bahagia tapi doa dan mimpi saya yang di tiga tahun pertama dalam pengabdian telah dikabulkan oleh ALLAH sang Pemilik Alam, Sang Maha segalanya, sebuah mimpi yang saya ucapkan sesaat setelah saya menerima SK penemtapan Tugas.
Semua pencapaian itu menambah keyakinan saya bahwa bekerja dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab tidak akan pernah sia sia, bermanfaat buat orang lain adalah prinsip saya sejak dulu.
Inilah tulisan sederhana saya semoga bermanfaat atau sekedar menjadi renungan dan ajakan sebagai GURU marilah kita bekerja dengan penuh keihklasan tanpa mengaharapkan balasan dari manusia, biarlah ALLAH yang membalasnya dengan sesuatu yang tidak kita sangka. Mari kita mengajar sebaik mungkin memberi yang terbaik untuk generasi penerus bangsa ini, meski hari ini GURU seakan akan dikebir,  seakan akan tidak dipercaya lagi untuk mendidik, disaat sekarang  GURU sering dipersalahkan. Kita Tetap Memberi yang terbaik untuk anak didik Kita, mereka adalah anak-anak kita, anak yang kita berharap akan menjadi pembela kita di akhirat kelak.


TANDUNG, 13 AGUSTUS 2016

ABDUL MUJID,  Guru IPA SMPN 1 Tutallu Polewali Mandar


Tulisan Ini telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan Judul "Being an Inspiring Teacher" 2016

Revolusi Industri 4.0 dan Kesejahteraan Guru

weekend yang lalu saya melihat bertebaran postingan teman-teman tentang kegiatan peningkatan mutu berupa seminar, ada juga bimtek. menarik ...